GEDE, aku datang padamu

Posted: December 19, 2012 in INSPIRATION & MOTIVATION

Image

** Dua latar belakang motivasi yang menyatu menjadi satu semangat kebersamaan **

Aku, yang jauh-jauh hari bermimpi – bahkan saat masih kuliah dulu – untuk menyaksikan saksi bisu lahirnya pencinta alam, dipertemukan oleh seorang kawan yang memang hobi melakukan pendakian sejak kuliah. Dari dua semangat itu lahirlah mimpi baru dari kawan-kawan se-profesi. Ber-delapan belas, kami pun menembus hutan menuju puncak Gunung Gede pada tanggal 15 – 16 Desember 2012. Tepat dimana 43 tahun lalu Soe Hok Gie meninggal di Gunung Semeru, tokoh intelektual muda idealis, aktivis mahasiswa dan pencinta alam yang menginspirasi begitu banyak anak muda di negeri ini . Dan juga, yang menginspirasi aku untuk datang pada tempat dingin itu.

Namun perjalanan itu tak semudah seperti daun jatuh yang terbawa angin, tak selancar air terjun yang berderas kencang, dan tak semudah membalikkan telapak tangan, begitu kata kebanyakan orang. Banyak rintangan yang kami hadapi bahkan ketika akan melakukan proses perijinan dan survei lokasi pendakian ke gunung tersebut. Tak sedikit pula percekcokan, keraguan, serta haru dan kecewa bagai hujan yang menemani perjalanan itu. Lelah berkendaraan dengan sepeda motor,  hujan yang tak jarang melebihi kali kita mandi sehari, kami lalui dengan senyum namun terkadang juga dengan muka kecut, demi sebuah ijin (SIMAKSI) untuk berada di tanah pada ketinggian 2958 mdpl.

Sebuah perjalanan atas dua inisiatif yang berbeda kemudian menjelma pada semangat dengan bumbu-bumbu keraguan serta rasa lelah yang akan  terbayar lunas untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya, saat berada di puncak sana, puncak Gunung Gede.

IMG_0949

Kami berangkat pukul 22.00 waktu Cilegon. Sebuah kota, dimana kami dihabiskan waktunya hampir seharian untuk menuangkan segala ide dan kreasi di meja yang dipenuhi tumpukan buku, kertas serta satu set peralatan elektronik. Sebuah kota dimana kami mengerti betapa tidak mudahnya mencari sesuap nasi. Sebuah kota dimana rasa rindu pada orang tua direfleksikan dengan doa. Dan sebuah kota dimana kami belajar bersyukur pada-Nya.

Image

Pukul 05.30 waktu Cipanas Kab. Cianjur, kami tiba di titik dimana petualangan kami akan segera dimulai. Sebuah perjalanan yang memakan waktu lebih dari 7 jam untuk menuju basecamp jalur gunung putri. Sebuah perjalanan dimana malam tak mampu memaksa kami memejamkan mata untuk sejenak. Sebuah perjalanan penuh dengan teka-teki dan tanda tanya. Dan sebuah perjalanan yang melelahkan.

Selanjutnya, beberapa dari kami berbagi tugas, ada yang mengecek perlengkapan rombongan, ada yang memesan sarapan untuk energi kami pagi itu, dan tentunya ada seorang yang rela mendokumentasikan keberadaan kami pada titik itu.

Hampir bisa dipastikan, kami belum ada yang tidur. Sekalipun ada yang tidur, itu hanya tidur ayam. Lelah, tentunya. Dingin, mencoba mengurungkan niat kami. Namun semangat kami pagi itu, seperti tegukan secangkir kopi pada gerimis pagi di tengah kebun teh.  Rasa lelah dan dinginpun digeser  oleh kesibukkan mempersiapkan segala sesuatunya yang perlu dibawa, sisanya ditinggal di mobil.

IMG_0986

Selesai sarapan, kami pun berdoa, dan pukul 10.00 WIB petualangan kami pun segera di mulai. “Surya Kencana kami datang padamu. Gede , ijinkan kami melihat pesonamu, dan Tuhan, bantu kami melestarikannya.”

IMG_1021

IMG_1052IMG_1057

Butuh waktu berjam-jam kami melalui pendakian ini. Akar-akar yang kuat dan melintang, batu-batuan yang tajam dan licin saat hujan, hujan yang tak pernah permisi, serta kabut tipis yang dingin, merupakan teman perjalanan kami. Berkali-kali kamipun berisitirahat. Menikmati bekal yang kami bawa, seadanya, seperlunya dan menikmati secara bersama.

Kami harus melalui enam pos untuk sampai di alun-alun surya kencana. Tempat kami bermalam, mendirikan tenda, dan bertarung dengan dingin serta rasa berat di kaki saat menuju puncak pada pukul 04.00 waktu setempat. Di tempat itu, hamparan edelweis tersebar sepanjang jalur menuju puncak gunung Gede. Namun kami tak menemukan mata air di tempat itu. Untungnya perbekalan minum kami tercukupi.

IMG_1104

Hanya dua pos yang aku ingat namanya, Buntut lutung ( 1800 mdpl) dan Simpang Maleber. (2600 mdpl). Kedua pos ini sangat memberi kesan bagi ku. Di kedua pos itu, aku beristirahat cukup lama, tidur sejenak, menikmati nasi uduk yang hampir basi, dan berfoto ria secara bergantian karena kami tertinggal jauh dari rombongan yang telah berada di depan. Kami hanya bertiga. Di simpang maleber, aku benar-benar merasakan titik lelah sebenarnya. Namun sekali lagi, tekad ku dan tekad kami sudah jauh-jauh hari kami gantungkan di puncak gunung gede. Dan kami berhak menggapainya.

Sekitar pukul 17.30 rombongan yang berada di depan telah sampai di alun-alun surya kencana, dan kami-bertiga- baru tiba setengah jam kemudian dengan perjuangan yang cukup melelahkan. Setibanya di surya kencana, kami langsung ikut membantu mendirikan tenda untuk tempat kami bermalam. Gerimis nampaknya memberi tanda bahwa malam itu hujan akan bertamu ke tenda kami. Namun lelah dari perjalanan Cilegon – Cianjur, jalur pendakian yang beraneka rupa rintangannya, serta dingin yang tak bersahabat, melebur, menyatu dan lenyap dalam tidur dengan rintikan air hujan sepanjang malam.

IMG_1464

Malam itu, dimana kami tertidur lelap, aku terbangun dalam dinginnya Surya Kencana, dalam tetes demi tetes air hujan yang tanpa permisi menembus tenda kami, dalam gelapnya sekitar tenda, dalam ributnya tetangga sebelah, dan dalam “air kecil” yang nampaknya membeku dan susah untuk dibuang. Bergegas ku bangunkan kawan-kawanku itu untuk menuju puncak gunung Gede. Dan kamipun berhasil ke puncak gunung gede saat fajar dilengserkan oleh matahari yang mulai menampakkan pesonan keindahannya.

Di puncak itu, syukur kami langitkan dengan pelbagai bahasa, cara, dan gaya yang berbeda. Di puncak itu, menyadarkanku betapa aku ini sangatlah kecil. Di puncak itu, mengajarkan aku untuk melihat “ke bawah”. Di puncak itu, kesombongan demi kesombongan aku lebur dan buang bersama angin yang dinginnya semakin kentara. Di puncak itu, aku menyadari betapa indahnya negeri ini, betapa indahnya ciptaan-Nya, betapa indah Sang Penciptanya, dan betapa indahnya bila kita mencintai dan menjaganya.

IMG_1200

Bukan tentang nasionalisme atau patriotisme kami pada bangsa ini

Bukan karena garuda di dada kami,

Di tanah ini kami dilahrikan,

Dari bumi ini , kami minum airnya,

Untuk sebuah mimpi, keringat bercucuran di tempat ini,

Darinya, kami mengenal cinta dan keindahan,

Darinya kami mengenal persahabatan,

Darinya kami mengenal Tuhan,

Dan untuknya, jiwa raga kami.

Alam mengajarkan kita akan banyak hal. Tentang kesabaran dan keikhlasan,  tentang sebuah tekad dan pengharapan, tentang sebuah mimpi dan cita-cita, dan tentang sebuah karakter  sesungguhnya yang muncul secara spontan. Dalam prosesnya, mengajarkan kita tentang sebuah teka-teki alam, tentang hutan yang nampak muram, tentang belaian angin yang menjadi dingin ,  tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu, tentang hidup soal keberanian menantang yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar, begitu ucapnya (Soe Hok Gie) melalui puisinya, dan  tentang kepasrahan dan menggantungkan diri pada-Nya.

Di Gunung mengajarkan kita tentang persahabatan, kepedulian sekaligus keegoisan. Hanya perlu 5 Detik untuk mencari musuh, namun butuh berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk bertemu dengan sahabat. Ia, yang tak sekedar menyapa kita, menggiring kita pada tertawa yang lepas, namun ia juga yang membuka keran air mata kita untuk sebuah penyadaran, saat tergelicir, tersesat, dan terjerumus serta lupa akan mimpi-mimpi kita. Ia yang akan menyodorkan tangannya saat kita terjatuh. Ia yang akan menggandeng tangan kita untuk patuh pada orang tua, dan ia yang selalu mengajak kita untuk tunduk dan bersujud pada-Nya.

Untuk sebuah mimpi yang aku raih, untuk sebuah tekad yang menghapus keraguan, untuk sebuah totalitas dalam perjuangan, dan untuk sebuah kehormatan bersamamu kawan-kawan, aku datang padamu gunung gede, yang dingin dan indah.

Camera 14MP-9PA

IMG_1145

Camera 14MP-9PA

IMG_1303

IMG_1319

IMG_1167

IMG_1195

IMG_1152

IMG_1135

IMG_1131

IMG_1176

IMG_1285

IMG_1203

IMG_1228

IMG_1385

Camera 14MP-9PA

IMG_1370

Pencipta alam, tentunya mencintai alam. Pencinta alam belum tentu mencintai alam.

Salam lestari dari kami untukmu semesta.

Comments
  1. dr. Nur Farokha says:

    ketika jiwa & raga menyatu dengan alam, hanya hati yang bisa bicara…

  2. walidin says:

    mantapp tenan bos foto-fotonya…wonderful indonesia

  3. […] GEDE, aku datang padamu. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s