BELAJAR MERDEKA (part 1)

Posted: August 16, 2012 in RELIGI

Bismillahirrahmanirrahim.

“Mungkin anda akan menjumpai empat macam orang :

Orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu ,

Bertanyalah kepadanya;

Orang yang tahu dan tidak tahu bahwa dia tahu,

Ingatkanlah dia;

Orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dia tidak tahu,

Ajarilah dia;

Orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu,

Tinggalkanlah dia.”

 

*Kata mutiara dinukil dari mutiara-mutiara benjol karya a.mustofa bisri, (sumber : KOMPENSASI- Gus Mus).

Mengawali artikel ini, penulis ingin sekali lagi mengingatkan kepada penulis sendiri agar tidak tergiur oleh anggapan yang menyesatkan, yaitu sebuah anggapan yang ditujukan pada diri penulis pada khususnya dan diri kita pda umumnya yang sejatinya anggapan tersebut tidak sesuai dengan yang ada pada diri kita. Seperti Dawuhnya K.H. Bisri Mustofa dalam “KOMPENSASI” nya Gus Mus, “Tak akan rusak orang yang tahu batas kemampuannya”.

Seperti yang ingin penulis sampaikan “jangan menyajikan pernyataan yang justru membuat diri kita terlihat bodoh oleh sebab kita merasa “sedikit tahu” tentang pernyataan tersebut, dan padahal kita tak “memahami” benar-benar pernyataan tersebut”.

Sebagai seorang yang sangat awam terhadap agama, penulis terus mendalami dan sedikit demi sedikit berusaha mengamalkannya, penulis sangat prihatin dengan pernyataan-pernyataan saudara kita yang masih perlu dipertanyakan apakah mereka paham benar dengan apa yang mereka sampaikan tersebut ? Perlu dipertanyakan pula asal usul pernyataan mereka itu diajarkan oleh siapa ? dan apakah ia paham benar dalam penyampaiannya ?

Penulis sendiri tak punya kapasitas untuk menjelaskan beberapa hal di atas. Namun penulis paham benar pernyataan seperti apa yang harusnya diketengahkan ke publik, lebih-lebih pada alam demokrasi yang mudah tersulut emosi dan terprovokasi.

Lalu kepada siapa hendaknya kita belajar dan memilih tauladan ? sebaik-baik teladan adalah Kanjeng Rasul Muhammad SAW yang telah terbukti sikap dan perilakunya begitu mendamaikan semesta. Pertanyaannya sekarang adalah Kanjeng Rasul memanglah manusia istimewa, namun Beliau tetap saja manusia biasa seperti kita yang dipanggil untuk menghadap Sang Kahliq, lantas kepada siapa kita harus belajar, saat Baginda Nabi dipanggil oleh Allah SWT ? Hingga muncul-lah sabda dari Panutan kita itu “ Ulama adalah pewaris para Nabi”. Ulama seperti apa yang “mewarisi” nabi ? dan apakah di jaman edan sekarang ini masih ada sebenar-benarnya Ulama seperti yang disabdakan Kanjeng Rasul Muhammad SAW ?

Berbicara tentang Ulama, masyarakat Indonesia lebih popular menyebutnya Kyai, terlebih di Pulau Jawa yang memang melahirkan istilah tersebut. Menurut Dr. Arief Budiman dalam buku Kompensasi (kumpulan tulisan Gus Mus), ada tiga macam kategori kyai, 1. Kyai produk masyarakat; 2. Kyai produk pemerintah; 3. Kyai produk pers.

Kyai jenis pertama inilah yang diketahui memilik ilmu agama karena MENGAMALKANnya dan tidak hanya MENYIARKANNYA. Dan kebanyakan kyai-kyai jenis pertama inilah yang setelah wafat sering di-haul-i. Ada kyai yang mendidik (tak hanya mengajar) santri-santrinya secara lahiriyah dan batiniyah, ada kyai yang begitu tawadhu dan zuhud, dan ada pula kyai yang begitu menghormati sesama manusia.

Penulis tidak tertarik menjelaskan kategori yang lain, penulis pikir para pembaca yang budiman telah memahami kategori kyai yang lain🙂

Lho, sebenarnya pengen nulis tentang apa to ? kok daritadi ngalor ngidul ngomongin tentang kyai ?

iya nih🙂 tiba-tiba saja rindu dengan ceritanya kyai-kyai terdahulu, cerita walisongo, dan cerita shabat-sahabat Rasul.🙂

Kembali ke topik !🙂

Semua orang tahu bahwa pengalaman adalah Guru paling berharga. Namun seolah bangsa ini tak pernah belajar dari “pendahulu-pendahulunya” . Sehingga kita seakan lupa bahwa negeri kita pernah di-proklamirkan merdeka dengan satu falsafah agung yang sepertinya hanya sebatas cita-cita yang tak (belum) pernah terwujud. Hingga sekarang pun mulai diperdebatkan dasar negara kita tersebut, dan adapula yang menginginkan merubahnya.

Dan lagi, sepertinya banyak pemimpin yang tak berkompeten menduduki kursi-kursi penting di negeri ini. Sebaiknya mereka perlu bercermin dan merenungkan dawuhepun K.H.Bisri Mustofa.  Tak ada ruginya mengenali batas kemampuannya. Dan tak ada ruginya untuk terus belajar untuk Merdeka seutuhnya.

sampai disini dulu kawan, semoga bermanfaat !

salam salam salam🙂

Comments
  1. wordpress team says:

    nice hand kk…. nice artikel… nice source… but your face didn’t nice… +_)(*&^%$#@! ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s